Di dunia akademia, terutama di universitas yang berbasis riset (research-based university), publikasi di jurnal ataupun konferensi ilmiah merupakan salah satu bentuk luaran yang diharapkan sebagai hasil dari penelitian yang dilakukan oleh dosen ataupun peneliti. Karya tulis ilmiah (paper) merupakan bukti bahwa hasil penelitian tersebut sudah dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan juga memiliki kontribusi yang berarti ke ilmu pengetahuan. Karya tulis tentunya tidak keluar begitu saja, tetapi karya tulis tersebut juga harus ditinjau (review) terlebih dahulu oleh para mitra bestari (reviewer) yang juga merupakan ahli di bidangnya. Oleh karena itu, apalagi pada jurnal-jurnal papan atas, tidak sembarang hasil penelitian yang bisa dipublikasikan. Para mitra bestari juga memiliki tugas untuk menyaring karya tulis ilmiah yang hasilnya bisa dipertanggungjawabkan, dalam artian bahwa hasil yang dituliskan di karya tulis bukanlah produk dari manipulasi data. Universitas berbasis riset juga dicirikan dengan banyaknya mahasiswa Doktor dan juga peneliti postdoktoral yang menjadi SDM andalan dalam melakukan penelitian dan menulis karya tulis ilmiah.
Pertanyaan pertama adalah: mengapa dosen di universitas berbasis riset harus melakukan penelitian? Mengapa susah-susah melakukan penelitian padahal kita tinggal memanfaatkan ilmu yang sudah ada? Jawaban dari pertanyaan ini adalah karena universitas berbasis riset memiliki tugas untuk memproduksi dan memajukan ilmu pengetahuan, bukan semata-mata memakai ilmu yang sudah ada. Ilmu pengetahuan harus dimajukan karena dengan cara itulah umat manusia bisa menemukan solusi dari permasalahan-permasalahan di dunia yang semakin kompleks. Hal inilah yang menjadi misi utama dari universitas berbasis riset dan juga institusi-institusi penelitian lainnya. Peran karya tulis ilmiah disini adalah sebagai medium bagi para dosen / peneliti untuk mendiseminasikan hasil penelitian mereka kepada masyarakat akademik dan juga masyarakat luas. Mengambil contoh dari bidang saya, algoritma Gaussian Process / Kriging, yang saat ini banyak digunakan untuk membuat model statistik di ilmu kebumian / teknik dan juga meningkatkan kapabilitas model prediksi machine learning, berawal dari karya tulis “A statistical Approach to some Basic Mine Valuation Problems on The Witswaterrand” yang dipublikasikan pada Journal of the Southern African Institute of Mining and Metallurgy pada tahun 1951. Jika saja sang penulis (Daniel Krige) tidak menulis dan mempublikasikan hasil penelitiannya saat itu, dunia tidak akan mengenal metode Kriging yang saat ini banyak dipakai di ilmu geostatistik. Harus kita akui bahwa Indonesia saat ini belum memiliki peran yang besar dalam dunia pengetahuan global. Akan tetapi, kita dapat menemukan keberadaan kantong-kantong kecil dalam artian bahwa ada peneliti-peneliti Indonesia yang juga memiliki peran besar di pengetahuan dunia.
Banyak institusi akademik di Indonesia saat ini sedang tergila-gila dengan Scopus. Apapun hasil, konferensi, dan jurnal-nya, yang penting publikasikan saja agar terindeks oleh Scopus (Scopus sendiri adalah database jurnal dan juga sitasi yang dimiliki oleh Elsevier). Perlu diketahui bahwa Scopus juga membagi-bagi jurnal ilmiah menjadi 4 kuadran, yaitu Q1, Q2, Q3, dan Q4, untuk masing-masing bidang. Semakin top suatu jurnal, maka jurnal tersebut akan berada di kuadran yang semakin tinggi (Q1). Kita mengenal jurnal seperti Nature dan Science yang merupakan jurnal sains terkemuka yang hanya mempublikasikan penelitian-penelitian dengan kontribusi besar dalam sains. Di bidang saya, teknik dirgantara, jurnal-jurnal yang berada di Q1 mencakup Progress in Aerospace Sciences, AIAA Journal, dan Aerospace Science and Technology, untuk menyebut beberapa. Bagi yang sering menggunakan perangkat lunak computational fluid dynamics pasti mengenal model turbulen k-omega yang pertama kali diperkenalkan kepada dunia menggunakan medium AIAA Journal. Harus diakui bahwa tidak semua publikasi yang berada di Scopus memiliki nilai ilmiah yang tinggi atau bahkan sebenarnya tidak memiliki nilai ilmiah sama sekali, dimana hal ini dikarenakan karena database Scopus saat ini sudah sangat besar dan kontrol kualitas mungkin semakin berkurang. Akan tetapi, semakin tinggi kuadran suatu jurnal, maka semakin tinggi juga kualitas jurnal tersebut dalam hal kualitas artikel, keketatan peer-review, dan tingkat kebaruan beserta kontribusi artikel tersebut ke ilmu pengetahuan. Disinilah letak salah kaprah komunitas akademia kita yang mengganggap bahwa ketika suatu artikel sudah masuk Scopus maka kualitas dari artikel tersebut pasti sudah tinggi. Alhasil, institusi-institusi Indonesia berlomba-lomba mempublikasikan karya tulis yang terindeks Scopus tanpa mempedulikan kualitas dan nilai kebaruan. Harusnya jika kita peduli dengan kontribusi Indonesia ke ilmu pengetahuan global, maka kita juga perlu mempertimbangkan kualitas penelitian dan juga karya tulis kita.
Di lain pihak, saya juga pernah mendengar selentingan-selentingan seperti “paper adalah karya paling rendah” atau “paper itu jauh kalah nilainya dibandingkan dengan produk industri” terutama dari kalangan yang bergerak di industri ataupun dosen-dosen yang memiliki banyak proyek. Perlu diingat bahwa jika kita kembali ke misi universitas berbasis riset, maka dosen juga memiliki peran dalam memajukan ilmu pengetahuan. Acapkali, proyek merupakan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang sudah ada (walaupun pasti ada saja proyek yang memiliki nilai keilmuan). Tidak semua produk industri juga merupakan hasil dari inovasi ataupun merupakan teknologi yang baru. Saat ini Indonesia memiliki unicorn-unicorn e-commerce berprestasi yang menggunakan teknologi machine learning modern, tetapi mengenai apakah kita sendiri berkontribusi terhadap perkembangan teknologi tersebut (seperti menciptakan metode-metode baru yang lebih efisien) itu merupakan suatu pertanyaan yang berbeda. Tentunya kita sangat perlu mengapresiasi produk-produk industri buatan Indonesia, akan tetapi membandingkan produk industri dengan karya ilmiah merupakan tindakan yang salah kaprah. Selain itu, karya tulis ilmiah dan produk industri bukanlah dua hal yang pantas dibandingkan, bukanlah perbandingan antara apel dengan apel. Untuk peneliti yang bergerak di bidang matematika komputasional, karya yang ia hasilkan adalah karya tulis ilmiah di suatu jurnal yang menjelaskan kontribusi dari penelitian yang dilakukan. Aljabar linear merupakan salah satu cabang matematika yang banyak digunakan di industri dan masih terus berkembang hingga saat ini berkat penelitian-penelitian yang terus dilakukan dan hasilnya juga terus didesiminasikan dalam bentuk artikel di jurnal; aplikasi dan inovasi yang lebih canggih ke depan akan dicapai seiring dengan kemajuan ilmu aljabar linear. Lalu, bagaimana juga dengan peneliti di bidang zoology atau astrofisika, apakah mereka harus melakukan penelitian mereka dengan mengarah ke suatu produk?
Tugas awal dari seorang peneliti di institusi penelitian ataupun perguruan tinggi adalah memajukan ilmu pengetahuan dan bukanlah menciptakan produk. Bisa saja kemudian ada spin-off dan akhirnya menciptakan inovasi yang sejati, tetapi hal itu baru bisa terjadi ketika ada unsur pengetahuan baru yang diciptakan. Orang yang pernah memakai CFD banyak yang memakai model turbulen k-omega tanpa menyadari bahwa k-omega diciptakan dari penelitian (DCW Industries adalah institusi yang khusus melakukan penelitian dan pengembangan di bidang fluida). Kita yang mempelajari mekanika fluida pasti juga pernah mendengar nama Ludwig Prandtl. Dalam karya tulis “Über Flüssigkeitsbewegung bei sehr kleiner Reibung (On the Motion of Fluids in Very Little Friction)”, Prandtl menjelaskan tentang lapisan batas yang merupakan fenomena penting dalam desain mesin fluida dan juga aerodinamika pesawat terbang. Ini adalah suatu contoh penelitian dan karya tulis ilmiah yang memiliki manfaat sangat besar untuk kemajuan sains dan teknologi dunia. Perlu dicatat bahwa industri juga dapat berkolaborasi dengan universitas untuk menciptakan inovasi. Sebagai contoh, laboratorium tempat saya bekerja di Jepang dulu menciptakan metode-metode desain komputasional terbaru yang telah diaplikasikan untuk menciptakan produk-produk industri yang inovatif (contoh: desain aerodinamika Mitsubishi Regional Jet). Perusahaan besar seperti Amazon dan Uber pun juga memiliki divisi research and development yang diisi oleh Doktor-Doktor berkaliber; mereka pun juga mempublikasikan hasil penelitian mereka di jurnal dan konferensi internasional.
Kritik saya ini bersifat dua arah, pertama kepada komunitas akademia (dimana saya juga terlibat di dalamnya) dan juga komunitas non-akademia. Komunitas akademia Indonesia saat ini lebih mementingkan publikasi yang terindeks Scopus tetapi tidak terlalu peduli dengan nilai keilmuan. Dalam komunitas akademia sendiri bahkan ada yang tidak peduli sama sekali pada kemajuan ilmu pengetahuan. Komunitas non-akademia, terutama industri, sering kali mengesampingkan pentingnya kemajuan ilmu pengetahuan dan tidak menyadari bahwa inovasi sejati itu lahir dari hal tersebut. Ada juga yang berkata “yang penting manfaatnya untuk masyarakat”; ya, manfaat produk industri memang langsung dapat dirasakan oleh masyarakat, tetapi masalah-masalah kita yang semakin kompleks di masa depan tidak bisa diatasi sepenuhnya dengan teknologi dan ilmu pengetahuan yang kita miliki sekarang ini. Kembali ke Ludwig Prandtl, sangat mungkin jika Prandtl tidak mempublikasikan karya tulisnya maka teknologi umat manusia yang berhubungan dengan fluida (pesawat terbang dan turbin, sebagai contoh) tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Semua pada akhirnya akan memiliki manfaat untuk masyarakat, baik dalam waktu dekat ataupun dalam waktu yang lama. Daripada kita sibuk membuat dikotomi industri dan akademia, akan jauh lebih baik dan produktif jika kolaborasi yang kuat dilakukan antara kedua institusi tersebut.
Saat ini Indonesia bukanlah negara yang berbasis knowledge-based economy, kita mungkin menuju ke arah tersebut tetapi masih jauh. World Bank mengembangkan dan menggunakan instrumen Knowledge Assessment Measures (KAM) untuk menganalisis tingkat knowledge-based economy dari suatu negara. Lalu, hal apakah yang menjadi indikator inovasi dari suatu negara? KAM memiliki tiga indikator, yaitu (1) jumlah peneliti di riset dan pengembangan (R&D), (2) aplikasi paten yang diberikan oleh USPTO, dan (3) jumlah artikel saintifik dan teknikal yang dipublikasikan negara tersebut (semua dihitung per satu juta penduduk). Jelas disini bahwa karya tulis ilmiah memiliki peran yang tinggi dalam knowledge-based economy dikarenakan konten kebaruan dalam ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh karya tulis ilmiah. Hal ini juga erat kaitannya dengan jumlah mahasiswa Doktoral di akademia yang, dimana seperti telah disebutkan sebelumnya, memiliki kontribusi besar dalam produksi ilmu pengetahuan dan inovasi. Lalu bagaimana dengan nilai Indonesia? Saat saya menulis tulisan ini, peringkat Indonesia untuk jumlah artikel saintifik dan teknik berada di peringkat 48, satu peringkat di bawah Slovakia dan satu peringkat di atas Kroasia (berdasarkan Scopus). Akan tetapi, perlu dicatat bahwa jumlah populasi Slovakia dan Kroasia berada di antara 4-6 juta penduduk pada tahun 2019, sementara Indonesia memiliki 264 juta penduduk! Ini berarti jika dibagi dengan jumlah penduduk, maka kontribusi relatif Indonesia terhadap ilmu pengetahuan global akan menjadi sangat kecil.
Bagaimana dengan ke depannya? Tentunya pihak akademia, industri, dan pemerintah harus bersinergi dan saling bekerjasama untuk memajukan kesejahteraan masyarakat Indonesia (bahkan dunia!). Kita tidak memerlukan lagi dikotomi akademia dan industri karena kolaborasilah yang kita butuhkan. Sebagai dosen yang berkarir di universitas berbasis riset, kami memiliki dalam tugas mengajarkan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dan juga memajukan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan ini manfaatnya untuk siapa saja, tidak hanya untuk komunitas akademia saja. Selain itu, walau saya juga merasa perlu adanya triple-helix yang lebih kuat antara akademia, industri, dan pemerintah, akademia tidak boleh sepenuhnya dibatasi dalam meneliti dan berkarya. Akademia kita juga harus lebih mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, bukan hanya sekedar mempublikasikan karya ilmiah asal-asalan di Scopus. Karya ilmiah berkualitas tinggi tentunya juga memiliki nilai keilmuan yang tinggi dan akan memiliki manfaat yang besar. Kita juga harus lebih mendorong munculnya universitas-universitas berbasis riset yang baru, selain juga terus meningkatkan kualitas dan kuantitas jumlah mahasiswa pascasarjana di universitas-universitas berbasis riset yang sudah ada. Ilmu pengetahuan, dilihat dari sudut pandang apapun, selalu memiliki manfaat baik untuk saat ini ataupun untuk jauh di depan. Terlebih, ilmu pengetahuan tidak mengenal kebangsaan, ilmu pengetahuan itu menembus batas negara dan juga waktu.
Bandung
15 Desember 2019
Penulis adalah dosen di Kelompok Keahlian Fisika Terbang, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara, Institut Teknologi Bandung. Karya tulis-karya tulis ilmiah penulis dapat dilihat di akun Google scholar milik penulis. Website pribadi penulis dapat dilihat di link ini.
















