50 tahun sudah berlalu semenjak pertama kali pendidikan Teknik Penerbangan (sekarang Aeronotika dan Astronotika) dicetuskan di salah satu kampus tertua di Indonesia, Institut Teknologi Bandung (ITB). Saya sendiri merupakan bagian dari institusi tersebut yang pernah menjalani pendidikan sebagai mahasiswa dari tingkat sarjana sampai Master yang dididik untuk memiliki kompetensi dan keahlian di bidang teknologi dirgantara yang mungkin masih sangat jarang dimiliki oleh mahasiswa di Indonesia. Bukan karena ilmu teknik dirgantara ini adalah keahlian yang spesial, tapi faktor satu-satunya adalah hanya karena jumlah perguruan tinggi yang menyediakan pendidikan Teknik Penerbangan di Indonesia dapat dihitung dengan jari, dimana ITB adalah salah satunya. Enam tahun lamanya saya dididik oleh dosen-dosen dengan kompetensi tinggi dimana saya sendiri juga banyak mencari pendidikan informal dengan cara bergabung dan aktif di berbagai organisasi dan kepanitiaan.  Menjalani tiga tahun pertama awal pendidikan Sarjana dengan secara teratur membolak-balik buku teks Aerodinamika, Struktur, getaran mekanik, dan berbagai bidang lainnya telah meyakinkan saya bahwa ilmu ini adalah ilmu yang saya cintai dan akan saya terus pelajari sampai kapanpun. Sederhana saja, motivasi saya untuk mengikuti tes masuk ke jurusan ini pun sangat simpel : saya suka melihat pesawat terbang. Melihat pesawat terbang, wahana luar angkasa, Sputnik, dan  Space Shuttle, selalu menimbulkan perasaan spesial di diri saya; betapa hebatnya umat manusia dalam menciptakan karya-karya teknologi tersebut.

Tentunya dengan menjadi mahasiswa di jurusan penerbangan ITB, bisa dipastikan telinga saya tidak akan pernah lepas dari mendengar kisah-kisah dan sepak terjang perkembangan teknologi dirgantara di Indonesia itu sendiri. Sering sekali saya mendengar cerita-cerita tentang jatuh bangun para insinyur penerbangan Indonesia dalam membangun pendidikan dan industri penerbangan di Indonesia. Nama-nama hebat dan besar seperti Oetarjo Diran, Harijono Djojodiharjo, Sulaiman Kamil, Said Djauhardsah Jenie, dan B. J. Habibie kemudian mendorong saya untuk terus menelurusi lebih dalam lagi kisah orang-orang yang saya sebut sebagai bagian dari generasi awal pahlawan teknologi dirgantara di Indonesia. Saya benar-benar bersyukur pernah diajar langsung oleh Prof. Said D. Jenie di tingkat pertama sarjana saya; saya pikir generasi di atas saya merasakan hal yang sama dengan mendapatkan motivasi langsung dari seorang kepala proyek pembangunan pesawat terbang N-250. Semasa kecil pun, saya banyak mendengar cerita dari ayah saya tentang pesawat CN-235 dan N-250 dan tentunya ada perasaan bangga tersendiri ketika saya diajar langsung oleh orang yang memiliki keterlibatan besar dalam proyek tersebut.

Dengan sekian banyak kisah masa lalu dan mimpi masa depan tersebut, saya ingin mencoba menengok kembali ke ruang kelas yang pernah saya duduki selama 6 tahun. Kembali duduk, kemudian menengok kiri, kanan, depan, belakang, dan kemudian mencoba melakukan refleksi mengenai apa yang telah saya dapat dan pandangan masa depan seperti apa yang pernah saya dapatkan di ruang kelas ini. Menghela nafas sebentar, kemudian berkata dalam diri : “Kelas-kelas inilah yang telah melahirkan orang-orang hebat, orang-orang hebat itu juga lah yang melahirkan ruang-ruang kelas yang lebih hebat lagi”. Di kelas ini saya melihat teman-teman seangkatan saya, senior-senior, dan junior-junior saya mendalami ilmu yang sama dan dalam banyak hal mungkin juga memiliki mimpi yang sama dan mendengar kisah kejayaan dirgantara Indonesia yang sama. Kami mencatat apa yang dosen kami ajarkan tentang mekanika kekuatan material, aliran di sekitar penampang sayap, teori kendali pesawat terbang, analisis prestasi pesawat terbang, dan semua mata kuliah yang dirangkum dalam kurikulum pendidikan di jurusan ini. Kembali saya bertanya dalam diri saya : “Apa yang bisa saya mulai dari ruang kelas ini untuk memajukan kembali dirgantara Indonesia?”

Saya pikir banyak sekali mahasiswa Aeronotika dan Astronotika ITB merasakan hal yang sama: termotivasi oleh kejayaan teknologi dirgantara Indonesia di masa lalu dan memiliki rasa kagum yang sama terhadap figur seperti B.J. Habibie dan Oetarjo Diran. Pertanyaan selanjutnya adalah : Dengan rasa bangga dan kagum tersebut, apa yang bisa mahasiswa lakukan untuk membentuk masa depan teknologi dirgantara Indonesia yang lebih maju dan lebih baik? Tentunya saat 100 tahun penerbangan ITB nanti saya dan anda juga ingin melihat karya-karya dirgantara Indonesia setelah N-250 bukan? Tentunya saya dan anda ingin melihat lagi pesawat tipe baru yang dimulai dengan huruf N yang diikuti dengan nomor lagi bukan? Saya dan anda seharusnya bisa melihat masa depan teknologi dirgantara Indonesia dari mata kuliah mekanika fluida, mekanika teknik, dan propulsi yang sedang anda dan saya pelajari sekarang. Tekankan pada diri anda bahwa inti dari kemajuan teknologi adalah penguasaan teknologi itu sendiri. Tidak akan ada bangsa yang maju dalam bidang teknologi tanpa penguasaan teknologi yang dalam dan kompeten; tidak akan ada Eropa dengan Airbus, Amerika dengan Boeing dan NASA, Jepang dengan JAXA, dan Indonesia dengan IPTN di masa lalu. Ernst Mach dan Ludwig Prandtl juga memulai dari ruang kelas sama seperti saya dan anda, mereka memulai sesuatu yang hebat dari ruang kelas, sama seperti yang saya dan anda sedang duduki sekarang. Sadarkah anda bahwa B.J Habibie dan Oetarjo Diran juga sama? Mereka mendalami sains dan teknologi di masa mudanya, mereka menguasai sains, teknologi, dan dengan bekal itulah mereka dapat merealisasikan karya-karya besar yang salah satunya sudah anda lihat pada N-250. Motivasi yang anda dapat dari mendengar kisah-kisah hebat itu harus anda bawa ke ruang kelas dan menjadi dorongan anda untuk mempelajari lebih serius ilmu yang sedang anda alami sekarang.

Mungkin pada akhirnya nanti beberapa dari kami memilih untuk keluar jalur dari bidang teknologi penerbangan karena berbagai alasan. Karena memang realita hidup tidak akan selalu sama dengan apa yang kita impikan di awalnya, anda mencita-citakan A dan bisa saja berakhir di B, anda mencita-citakan B bisa saja malah berakhir di C. Tidak ada yang salah dengan itu, asalkan idealisme tetap ada; hidup yang terasa pas pada akhirnya adalah hidup yang dapat menyesuaikan antara idealisme dan realisme. Walaupun begitu saya pikir ada yang lebih hebat lagi dari keseimbangan tersebut, yaitu suatu kondisi dimana dengan idealisme yang anda punya anda bisa menciptakan realisme yang sesuai dengan idealisme anda; anda menciptakan kenyataan baru, anda menciptakan dunia yang baru. Seperti yang dituturkan oleh Mahatma Gandhi, “Be the change you want to see in the world”, melihat kembali mimpi dan masa depan kita tentang penerbangan Indonesia, saya dan andalah yang harus menjadi bagian dari perubahan itu.

Jika saya dan anda termotivasi oleh para bapak pendiri Teknik Penerbangan ITB dan alumni-alumni yang mengharapkan agar generasi lebih muda dapat lebih maju dari mereka, sekaranglah saatnya untuk anda memulai hal tersebut, tidak usah menunggu anda memasuki dunia kerja atau perkuliahan tingkat lanjut, anda dapat memulai sekarang juga dari kelas tempat anda duduk dan menimba ilmu. Anda sedang belajar dengan dosen-dosen yang merelakan waktunya untuk mendidik generasi penerus mereka, anda sedang belajar dengan deretan orang-orang yang memiliki kompetensi tinggi, seperti yang dikatakan oleh dosen pembimbing saya saat saya menjalani pendidikan sarjana dan master di ITB. Jika anda sedang melakukan tugas akhir, atau sedang menjadi mahasiswa tingkat master maupun Doktor dan juga memiliki cita-cita yang sama dengan saya, riset yang sedang saya dan anda lakukan sekarang lah yang juga akan mendidik saya dan anda untuk menjadi generasi penerus dari orang-orang hebat yang kita kagumi nantinya.

Akhir kata, saya memang membuat catatan singkat ini khusus untuk mahasiswa yang mendalami teknologi penerbangan. Walaupun begitu anda dapat membaca tulisan ini dari sudut pandang dan bidang keahlian yang anda miliki sendiri. Anda dapat mengganti pahlawan-pahlawan penerbangan dalam cerita di atas menjadi pahlawan teknik elektro, teknik mesin, fisika, bidang sosial, dan bidang apapun di Indonesia sesuai dengan bidang yang anda dalami. Anda dapat melihat masa lalu dan menciptakan masa depan sesuai dengan harapan anda, menyusuri idealisme dan realita yang anda lihat dari sudut pandang bidang keahlian anda.

Untuk penerbangan Indonesia yang lebih baik, kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia, dan masa depan Indonesia yang lebih baik. Karena andalah yang menciptakan masa depan.

Tokyo, 2 Desember 2012

Pramudita Satria Palar

n250-landing
50 tahun lagi, saya harus bisa memasang foto karya cipta dirgantara Indonesia lebih banyak dari sekarang

Advertisements