Sudah satu setengah tahun berlalu semenjak saya menyelesaikan sidang Doktoral saya di Universitas Tokyo (University of Tokyo, Tokyo Daigaku). Salah satu persyaratan kelulusan program Doktoral saya saat itu adalah saya harus menemui masing-masing penguji, yang totalnya berjumlah lima orang, untuk menyampaikan hasil dari disertasi saya yang akan saya pertahankan saat sidang nantinya. Dari empat orang penguji di luar pembimbing saya, dua orang adalah professor di bidang aeronautika dan astronotika di Universitas Tokyo (Professor Shinji Suzuki dan Professor Kenichi Rinoie), satu professor di Japan Aerospace Exploration Agency (Associate Professor Akira Oyama), dan satu lagi professor di Tohoku University (Associate Professor Koji Shimoyama). Yang terakhir ini cukup spesial untuk saya, karena beliau adalah orang yang menjadi mentor saya di universitas Tohoku (Tohoku University, Tohoku Daigaku) saat ini. Saat pertemuan pra-sidang dengan beliau, beliau menawarkan saya untuk menjadi research associate/postdoctoral fellow di Universitas Tohoku. Sebelumnya kami telah bertemu di Florida, Amerika, atas inisiatif dari saya sendiri. Saat itu saya memberanikan diri untuk bertemu dan berdiskusi beliau saat berada di Amerika, mengingat beliau adalah professor muda yang cukup terkenal di bidangnya dan saya rasa saya bisa mendapatkan sesuatu jika berkenalan dengan beliau. Benar saja, siapa sangka dari sebuah komunikasi kecil tersebut saya akhirnya dapat melakukan penelitian di Aerospace Fluid Engineering Laboratory di Universitas Tohoku yang terkenal dengan kerjasamanya bersama Mitsubishi Heavy Industries dalam merancang sayap Mitsubishi Regional Jet. Lab. Aerospace Fluid Engineering sendiri berada di bawah tanggung jawab professor Shigeru Obayashi yang merupakan seorang pionir di bidang perancangan dan eksplorasi desain aerodinamika dengan menggunakan metode genetic algorithm. Universitas Tohoku sendiri adalah universitas level dunia yang memiliki rekam jejak yang sangat baik di bidang sains dan teknik. Tawaran dari universitas tersebut tentunya sangat menarik bagi saya, walaupun jelas saya harus berkompetisi lagi untuk mendapatkan posisi postdoctoral fellow yang dimaksud.

Saya terima tawaran beliau, dengan satu syarat saat itu: apakah saya boleh kembali ke Indonesia terlebih dahulu mengingat saya juga punya tanggung jawab di Indonesia? Saat itu beliau mengiyakan dan akhirnya saya pun kembali ke Indonesia untuk mengajar selama satu semester dan juga membantu tugas-tugas administratif di ITB selama kurang lebih satu tahun. Saya sempat mengajar mata kuliah matematika teknik dan juga melakukan penelitian, walaupun porsi penelitian yang saya lakukan tidak besar saat itu. Saya pun akhirnya berangkat ke Sendai (kota tempat Universitas Tohoku berada) di akhir Agustus 2017 setelah sebelumnya melakukan proses lamaran secara formal dan diterima menjadi research fellow di Institute of Fluid Science (IFS) Universitas Tohoku. Hal lain yang saya lakukan saat itu tentunya adalah meminta izin ke dekan dan rektorat ITB untuk mengikuti program postdoc ini (saat ini saya juga adalah staff ITB). Syukurnya istri saya juga mendapatkan beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang untuk menempuh program Master-Doktoral di Universitas Tohoku, sehingga kami tetap bisa hidup bersama di kota Sendai.

IMG_20170420_173353

Gedung fakultas hukum yang menjadi landmark Universitas Tohoku.

Hingga saat ini saya sudah berada di Sendai selama kurang lebih delapan bulan dan tentunya banyak hal baru yang telah saya dapatkan. Sendai, dibandingkan dengan Tokyo, adalah kota yang relatif kecil dimana tempat-tempat penting (kampus, kantor walikota, kantor prefektur, tempat tinggal) dapat terjangkau hanya dengan mengendarai sepeda. Sekarang saya bisa ke kampus dengan mengendarai sepeda dimana sebelumnya di Tokyo saya harus berdesak-desakan di kereta Tokyo yang terkenal luar biasa sesaknya saat rush-hour. Alur hidup terasa lebih santai di Sendai, walaupun untuk urusan pekerjaan tentunya saya lebih sibuk. Selain pekerjaan saya di Tohoku, saya pun masih memiliki beberapa pekerjaan di ITB seperti proyek penelitian yang sedang saya dan juga kolega-kolega saya rintis dengan salah satu industri otomotif di Indonesia. Lab. saya sekarang memiliki anggota cukup banyak yang mencakup sekitar 26 mahasiswa sarjana dan master, 5 mahasiswa doktor, 1 postdoctoral fellow (saya), 2 assistant professor, 1 associate professor (mentor saya), dan 1 professor. Saat ini ada lima orang internasional lain yang sedang bekerja di lab yang sama dengan saya: 1 dari Thailand, 2 dari China, 1 dari Australia, dan 1 dari Inggris. Walaupun begitu, lingkungan laboratorium saya sekarang sebenarnya tidak terlalu internasional jika dibandingkan dengan laboratorium saya sebelumnya di Tokyo. Lab. saya saat di Tokyo mewajibkan presentasi di seminar mingguan dalam bahasa Inggris (selain karena saat itu dua assistant professor-nya juga berasal dari Belanda dan Amerika), dimana sekarang ini presentasi diadakan dalam bahasa Jepang kecuali untuk mahasiswa asing. Saya pikir ini ada efeknya juga terhadap kemampuan berbahasa inggris mahasiswa Jepang-nya. Mahasiswa-mahasiswi di lab. saya di Tokyo pada akhirnya menjadi lebih pede dan fasih berdiskusi dalam bahasa Inggris jika dibandingkan dengan anggota lab. saya sekarang. Tetapi dari segi keilmuan, saya merasa jauh lebih cocok berada di lab. saya di Tohoku sekarang, mengingat lab saya di Universitas Tohoku melakukan riset di bidang desain aerodinamik yang memang cocok dengan ketertarikan saya.

IMG_20170414_095342

Pemandangan bunga sakura di kampus Katahira Universitas Tohoku.

Lab. Aerospace Fluid Engineering sendiri memiliki tiga fokus penelitian: 1) Asimilasi data dan data mining, 2) aerodinamika eksperimen, utamanya untuk rezim aliran kecepatan tinggi, dan 3) optimisasi dan eksplorasi desain aerodinamika. Lab. Aerospace Fluid Engineering  sendiri memiliki beberapa fasilitas high-end untuk melakukan penelitian eksperimental, yang diantaranya mencakup terowongan angin supersonik yang dilengkapi dengan sistem suspensi dan pengukuran gaya berbasis magnetik. Untuk mendukung penelitian di bidang asimilasi data dan optimisasi aerodinamika, IFS memiliki fasilitas seperti supercomputer, dan juga perangkat lunak yang bersifat komersial ataupun dikembangkan oleh Tohoku University sendiri. Salah satu kode computational fluid dynamics (CFD) yang dimiliki dan dikembangkan sendiri oleh Universitas Tohoku adalah kode Tohoku Aerodynamic Solver (TAS). TAS sendiri telah banyak digunakan untuk keperluan penelitian akademik ataupun skala industri yang dilakukan di Jepang, dimana salah satu dari aplikasi tersebut adalah optimisasi desain aerodinamik Mitsubishi Regional Jet yang dilakukan oleh lab. Aerospace Fluid Engineering.  Mengingat banyaknya proyek penelitian yang mencakup optimisasi desain yang telah dilakukan oleh lab. Aerospace Fluid Engineering (sebagian besar di antaranya adalah riset kolaboratif dengan industri), dapat dikatakan bahwa optimisasi desain aerodinamik merupakan keahlian paling utama dan ciri khas dari lab ini. Tujuan optimisasi sendiri adalah mencari desain atau sistem yang memberikan performa paling maksimal. Dalam bidang aerodinamik, utamanya yang dicari adalah bentuk dari pesawat, sayap, bilah turbin, ataupun benda aerodinamis lainnya yang memberikan performa optimum seperti gaya hambat yang terkecil. Lab. Aerospace Fluid Engineering sendiri telah mengembangkan beberapa metode optimisasi yang telah digunakan untuk rancang bangun teknik skala industri. Aplikasinya pun bukan hanya di pesawat terbang, salah satu aplikasi di luar bidang aeronotik yang sedang kami lakukan dengan bekerjasama dengan lab. biomedik adalah optimisasi stent untuk mencari pengetahuan penting mengenai bagaimana merancang stent yang optimum. Beberapa contoh rancangan pesawat terbang oleh lab. Aerospace Fluid Engineering di antaranya dapat dilihat di gambar di bawah.

Kiri: Model pesawat biplane rancangan Aerospace Fluid Engineering Laboratory untuk penerbangan supersonik (berita terkait dapat ditemukan di MIT news dan Popular Mechanics).

Kanan: Model pesawat konsep low-boom supersonic jet yang dirancang oleh Aerospace Fluid Engineering Laboratory.

Di Universitas Tohoku sendiri pekerjaan saya mencakup penelitian mandiri, membantu membimbing mahasiswa Master dan Doktor (di antaranya dari Cina, Thailand, dan Inggris), dan juga membantu membuka kerjasama internasional dengan universitas-universitas di luar Jepang. Penelitian mandiri yang saya lakukan utamanya adalah merancang metode desain baru yang harapannya dapat membantu mengatasi masalah-masalah optimisasi sulit di bidang aerodinamika. Shimoyama-sensei sendiri memberikan saya cukup kebebasan untuk melakukan penelitian dengan dukungan finansial untuk penelitian dan juga konferensi/visiting research di luar negeri. Dukungan finansial ini tentunya saya manfaatkan untuk membuka kolaborasi dengan universitas-universitas di luar Jepang. Saya sendiri  baru saja pulang dari Leiden University (Belanda) dan ETH Zurich (Swiss) di akhir bulan Maret tahun ini untuk memulai diskusi perihal kolaborasi penelitian yang akan kita lakukan bersama. Saya pikir dukungan seperti ini harus saya manfaatkan sebaik-baiknya agar jika saya kembali ke ITB nanti saya memiliki lebih banyak koneksi internasional. Sepengetahuan saya, salah satu kekuatan utama dosen Indonesia alumni Jepang adalah mereka (tentu saja tidak semuanya) tetap dapat membina hubungan baik dengan pembimbing mereka dahulu saat di Jepang. Hal ini tentunya harus dapat saya lakukan dan ikuti karena jelas dapat membawa manfaat yang baik untuk ITB nantinya.

 

Dengan dinamika kehidupan yang berbeda dengan Tokyo, dan juga suasana akademis dan intelektual yang berbeda dengan Universitas Tokyo, pindah dari kota besar ke kota kecil (Sendai bukanlah kota yang besar) tentunya merupakan satu pengalaman dan tantangan sendiri untuk diri saya. Selain itu tentunya beban kerjanya lebih berat dibandingkan dengan saat saya menjalani program doktoral saya dulu. Hal ini jelas, karena setelah lulus studi diharapkan seorang Doktor dapat memberikan kontribusi lebih untuk keilmuannya. Apalah artinya menjadi seorang Doktor ketika gelar itu hanya dipamer-pamerkan tetapi ia berhenti memberikan kontribusi berarti untuk keilmuannya ataupun lingkungan sekitarnya. Disinilah mengapa saya menyukai lingkungan di Universitas Tohoku ini. Mentor saya memberikan saya kebebasan dalam melakukan penelitian, ikut membantu membimbing mahasiswa beliau, dan juga memberikan kesempatan bagi saya dan murid-murid lainnya untuk melakukan kolaborasi dengan pihak lain (termasuk dengan Institut Teknologi Bandung).

 

Semoga apa yang saya dapat disini dapat memberikan manfaat lebih banyak untuk semua orang, baik yang berada di Indonesia dan juga di seluruh dunia.

 

 

Sendai,

20 April, 2017

 

 

 

 

Advertisements