Rasa haus akan ilmu pengetahuan dan juga rasa penasaran untuk melihat dunia menjadi motor penggerak saya untuk menjejakkan kaki dari satu tempat ke tempat lain untuk memuaskan dahaga saya akan ilmu pengetahuan. Dimulai dari Jakarta ke Bandung untuk menempuh pendidikan S1 dan S2, kemudian dari Bandung ke Tokyo untuk menempuh pendidikan S3 di Universitas Tokyo. Baru-baru ini saya juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi visiting PhD student  di Universitas Cambridge selama dua bulan untuk melakukan riset saya.  Setelah berdiskusi dan meminta masukan dari professor saya di Jepang, saya pun memberanikan diri untuk melanjutkan diskusi saya dengan seorang professor di Cambridge untuk melakukan penelitian kolaborasi. Buntutnya ternyata cukup bagus, saya diundang ke Cambridge untuk berdiskusi dan melakukan penelitian. Kenapa dua bulan? Karena saya rasa dua bulan adalah waktu yang cukup, tidak terlalu lama dan tidak terlalu sebentar, untuk saya mempelajari dinamika dan lingkungan pendidikan di Universitas dan kota Cambridge. Selain itu pula JICA (Japan International Cooperation Agency) tidak mengizinkan saya untuk keluar dari Jepang selama lebih dari dua bulan jika tidak ingin beasiswa saya dipotong. Setelah melalui proses pembuatan visa (yang saya rasa cukup merepotkan) dan memesan tiket untuk berangkat dari bandara Narita menuju bandara Heathrow dimulailah perjalanan saya menuju UK (United Kingdom) dengan berbekal sedikit uang tetapi rasa ingin tahu yang jauh lebih besar. Izinkanlah saya disini untuk sedikit berbagi mengenai pengalaman saya dan apa yang saya dapatkan dari  waktu yang saya habiskan di Cambridge agar kiranya ini bisa bermanfaat untuk orang lain.

Sesampainya saya di Inggris saya dijemput oleh teman saya, Hagorly, di bandara Heathrow dan begitu melangkah keluar dari Heathrow dimulailah perjalanan saya di Inggris. Malam pertama di Inggris saya habiskan di London, mengingat saya masih perlu memikirkan cara termudah untuk berangkat dari London ke Cambridge yang lokasinya kurang lebih sekitar 90 km dari London. Waktu yang tepat untuk melakukan eksplorasi awal di kota London, pikir saya. Setelah diantar oleh teman saya mengelilingi London dalam satu hari, kesan pertama saya terhadap London adalah kota ini memiliki suasana kota yang dinamis, arsitektur yang menarik, dan juga heterogen, mengingat berbagai orang dari berbagai tempat di dunia datang ke kota London baik sebagai imigran ataupun pelajar. Untuk saya yang mempelajari budaya Inggris dari musik dan buku, melihat kota dan budaya London dengan mata kepala sendiri adalah satu pengalaman yang sangat menarik. Sayangnya saya tidak memiliki terlalu banyak waktu di London karena sore harinya saya sudah harus berangkat ke Cambridge dengan bus antar kota. Dua jam perjalanan dari London ke Cambridge saya habiskan dengan melihat landscape dataran inggris dari jendela bus, yang secara struktural sangat berbeda dari dataran Indonesia dan Jepang. Jika saya bertanya kepada calon istri saya yang seorang sarjana Geologi tentang mengapa dataran Inggris lebih datar jika dibandingkan dengan Indonesia dan Jepang , jawaban darinya adalah perbedaan ini diakibatkan oleh lokasi Inggris yang tidak berada di zona subduksi seperti Indonesia dan Jepang. Maaf saya tidak akan panjang lebar mengenai apa itu zona subduksi (silakan googling). Sesampainya di Cambridge, saya langsung menaiki bus lokal ke tempat kos saya di daerah Cherry Hinton. Pemilik kosan ini adalah keluarga India yang sangat hangat dan juga sangat rajin memasak, setidaknya setiap seminggu sekali akan selalu ada makanan India yang diantar ke kamar saya. Dengan hanya satu hari untuk beristirahat, hari-hari yang produktif di University of Cambridge akan dimulai dari hari senin terdekat.

 photo (5)  Departemen teknik Universitas Cambridge, gerbang depan

Sesampainya di Universitas Cambridge, saya langsung menghubungi professor dengan memanfaatkan Wifi yang cukup mudah ditemukan. Setelah melakukan proses pendaftaran saya diberikan meja khusus untuk tempat saya bekerja selama dua bulan ke depan. Di University of Cambridge sendiri saya bekerja dibawah bimbingan Dr. Geoff Parks, professor dengan keahlian di bidang teknik dan desain nuklir. Sekilas memang terlihat dan terdengar bidang keahlian beliau agak jauh jika dibandingkan dengan  bidang saya, walaupun jelas keduanya sama-sama teknik. Awal ketertarikan saya untuk melakukan penelitian di laboratorium Dr. Geoff adalah karena riset-riset yang dilakukan di laboratorium ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan industri dan salah satu bidang utama di laboratorium ini adalah desain aerodinamika (Aerodynamic Design). Saya pun juga bertanya kepada beliau mengapa beliau memperluas keahliannya ke bidang desain komputasional. Beliau akhirnya bercerita jika pendanaan bidang nuklir di Inggris sempat mengalami masa suram, sehingga untuk bisa bertahan dan menghidupi laboratoriumnya Dr. Geoff harus mencari berbagai cara dan alternatif, dan jalur itu adalah dengan melakukan penelitian di bidang desain dan optimasi komputasional (Computational Design and Optimization) yang dapat diaplikasikan di banyak bidang. Dr. Geoff juga bercerita bahwa mahasiswa Engineering di Cambridge mempelajari ilmu teknik secara umum di tahun pertama dan kedua, memberikan bekal yang cukup sebagai modal awal untuk memperdalam ilmu di luar keahlian sendiri. Oleh karena itu tidaklah terlalu berat bagi Dr. Geoff untuk mempelajari ilmu aerodinamika dengan ilmu dasar mekanika fluida yang beliau pelajari saat tahap persiapan bersama. Hal yang sama saya rasakan di ITB saat tahun pertama, hanya saja saya rasa  saya masih kurang dalam beberapa ilmu teknik dasar seperti elektronika, syukurlah saya sempat mempelajari kembali ilmu elektronika untuk menyelesaikan tugas akhir S1 saya.

Di University of Cambridge, saya  bekerja dibawah payung Engineering Design Center (EDC), sebuah pusat penelitian yang didirikan oleh University of Cambridge untuk menaungi penelitian-penelitian dalam bidang rancang bangun dan rekayasa teknik. EDC sendiri terdiri dari berbagai laboratorium desain ataupun komputasi seperti laboratorium desain berbasis komputasional, dinamika fluida komputasional, teknik nuklir, manajemen desain, dan lain-lain. Para peneliti dan mahasiswa doktoral yang berada di bawah EDC bekerja dalam satu ruang besar dengan kapasitas sekitar 100 orang dengan para dosen memiliki ruangnya masing-masing tepat di samping ruang besar tersebut.  Saya diletakkan di grup desain berbasis komputasional, bersama lima peneliti lainnya yang berasal dari Italia, Amerika, Yunani, dan Kanada.  Satu hal menarik yang saya amati adalah suasana ruang kerja seperti ini sangat memudahkan komunikasi antar peneliti lintas ilmu. Sebagai contoh, selain berdiskusi dengan teman-teman saya di bidang desain berbasis komputasional, akan sangat mudah bagi saya untuk berbagi dan bertukar ilmu dengan teman-teman lain di grup dinamika fluida komputasional. Sangat mudah, karena saya tinggal melangkah ke mejanya dan dapat dengan memudah memulai obrolan. Bahkan di dalam  EDC anda juga bisa menemukan peneliti dari bidang manajemen ataupun psikologi. Saya tiba-tiba teringat definisi teknologi yang dijelaskan oleh almarhum Professor Said D. Jenie bahwa teknologi itu mencakup Sains, Teknik, Manajemen, Ekonomi, dan juga Seni. Mungkin jika masih ada dari kita yang merasa bidang keilmuan kita paling hebat di antara yang lain, ketahuilah bahwa dobrakan-dobrakan terbaru ilmu pengetahuan hampir semuanya berasal dari kolaborasi antar disiplin ilmu.

photo (4)

Salah satu karya departemen teknik Universitas Cambridge

Selain itu sangat sering sekali diadakan kuliah tamu dari universitas/institusi luar dimana pembicara-pembicara tersebut diundang oleh Universitas Cambridge untuk memberikan kuliah singkat dengan topik yang spesifik. Beberapa yang saya hadiri adalah kuliah singkat mengenai metode kalkulasi gradient dari Colorado School of Mines dan tentang pendekatan fungsi dengan polynomial dari Universitas Oxford (maaf jika istilahnya terlalu matematik). Sebenarnya kuliah singkat seperti ini juga banyak di University of Tokyo, tapi saya akui saya baru merasakan pentingnya menghadiri kuliah seperti ini untuk memperluas wawasan dan pengetahuan di Universitas Cambridge. Sisi baik dari kuliah tamu seperti ini adalah terbukanya potensi kolaborasi antar institusi lokal/lintas negara dan juga memperluas wawasan mengenai kemajuan ilmu pengetahuan yang terjadi sangat cepat di berbagai pelosok dunia. Di minggu terakhir sebelum saya berangkat saya memberikan presentasi mengenai algoritma untuk desain yang saya kembangkan selama di Tokyo dan saya kembangkan lebih lanjut di Cambridge. Banyak sekali masukan yang saya dapat dari kolega dan Dr. Geoff dan kami sepakat untuk melanjutkan kolaborasi di bidang desain komputasional dengan fokus utama pada optimasi aerodinamik dan kuantifikasi ketidakpastian (Uncertainty Quantification). Suasana presentasi-nya sendiri sangat kondusif dan konstruktif, saya pikir budaya presentasi seperti ini dapat dijelaskan oleh poster-poster yang saya foto di ruangan tersebut dan saya berikan di bawah. Silakan dilihat dan direnungkan sendiri tulisan-tulisan yang ada di foto tersebut dan silakan anda bawa budaya baik tersebut ke kantor ataupun universitas anda.

.photo (7)

Ada beberapa hal positif yang saya dapatkan dari penelitian singkat di Cambridge University. Karena sudah saya sebutkan beberapa di paragraf-paragraf sebelumnya maka paragraf ini lebih bersifat merangkum apa yang sudah saya bahas barusan. Satu hal paling penting saya lihat di Engineering Design Centre ini adalah kolaborasi, kolaborasi yang bisa dimulai dari diskusi informal dan tidak dibatasi oleh sekat-sekat perbedaan dan gengsi antar disiplin ilmu. Hal yang saya rasa terkadang masih sulit dilihat di kampus saya sendiri di Indonesia, dimana di beberapa tempat masih ada rasa kebanggaan yang berlebihan akan disiplin ilmu sendiri. Hal positif kedua adalah kemauan untuk terus belajar dari orang lain. Seperti halnya di Universitas Tokyo, Universitas Cambridge sering sekali mengundang pembicara dari luar yang berasal dari berbagai profesi dan keahlian. Sebagai contoh yang unik dari Universitas Oxford, baru-baru ini mereka mengundang Andrew W.K (musisi Rock Amerika) untuk berbagi mengenai pandangan hidupnya mengenai filosofi pesta. Ketiga, hubungan antara professor (setidaknya Dr. Geoff) dan murid-muridnya baik dalam presentasi maupun diskusi adalah seperti kolega tetapi tetap saling menghormati tanpa perlu gila hormat. Bahkan jika anda kurang setuju dengan Professor anda, anda tetap bisa menyampaikan ketidaksetujuan anda tanpa perlu terlalu segan dengan professor anda, tentunya anda perlu menyampaikan argumen anda tersebut dengan logis dan juga secara etis. Persis seperti bagaimana pembimbing S1 dan S2 saya berkata kepada saya  : “Kita sama-sama belajar saat anda mengerjakan tesis anda”.

photo (6)

King’s College, Universitas Cambridge

Terlepas dari suasana kampus, suasana kota Cambridge sendiri pantas untuk diberikan perhatian lebih untuk turut saya ceritakan disini. Cambridge adalah kota yang identik dengan ilmu pengetahuan, oleh karena itu tempat yang sering saya kunjungi di Cambridge adalah museum, toko buku, dan cafe untuk membaca buku. Satu museum yang saya kunjungi beberapa kali adalah Fitzwilliam Museum yang menyimpan berbagai benda antik dari perabadan kuno, pertengahan, maupun modern. Ada beberapa dari gedung-gedung milik Universitas Cambridge yang dibangun sejak tahun 1200-an, memberikan kesan antik dan cantik ketika saya berjalan-jalan di tengah kota Cambridge. Banyaknya museum di kota ini menunjukkan bahwa kota ini tidak pernah melupakan sejarahnya, baik ataupun buruk, karena beberapa barang yang dipajang di museum-museum tersebut berasal dari daerah yang dikuasai/dijajah Inggris di masa lalu. Karena saat itu saya berada di Inggris, buku-buku yang saya beli pun kebanyakan bertema budaya ataupun perkembangan industri dan teknologi Inggris.  Saya juga menyempatkan diri untuk berbelanja di Cambridge University Press dan memanfaatkan diskon sebesar 20% untuk orang yang memegang kartu Universitas Cambridge. Selain museum, toko buku, dan cafe, tempat yang sering sekali saya kunjungi adalah supermarket, baik supermarket dalam bentuk chain store ataupun supermarket lokal. Untuk menghemat uang, saya sering sekali membeli makanan disini dan akibatnya saya sering sekali berinteraksi dengan pegawai-pegawai toko tersebut. Setiap akan membayar barang-barang yang saya beli ada dua hal yang harus saya siapkan : uang dan topik obrolan hari ini. Ya, pegawai toko di Inggris (dalam hal ini Cambridge) sangat suka sekali mengobrol dan suasana hangat seperti ini menjadi hal yang saya tunggu setiap hari. Tidak jarang juga saat saya duduk di cafe saya berbicara panjang dengan orang yang bahkan tidak saya kenal sebelumnya. Hal yang saya juga dapat rasakan saat saya di Bandung  dengan pemilik warung sembari menikmati Indomie hangat dan kopi sachet di warung dekat kos saya. Singkat kata, London dan Cambridge adalah dua kota yang sangat hidup dan dinamis, dua kota menarik yang dapat memperluas sudut pandang orang yang mendatangi dua kota ini.

photo (3)

Buku dan kafe selalu menjadi teman akrab saya, dimanapun

 Tentunya tidak pernah ada yang sempurna.  Inggris adalah komunitas yang memiliki tingkat ketidaksamarataan (inequality) yang cukup tinggi. Dapat kita lihat walau Inggris memiliki institusi-institusi pendidikan yang dipandang dunia, Inggris masih perlu berjuang keras dalam hal ketidaksamarataan ekonomi dan pendidikan (bisa anda lihat dari koefisien Gini ataupun ranking PISA Inggris yang berada di deretan peringkat bawah jika dibandingkan dengan negara OECD lainnya). Mungkin itulah  sebabnya mengapa di London anda dapat melihat tempat yang sangat bersih tetapi juga tempat yang sangat kotor di sudut lain. Coba anda pikir siapa salah satu penonton sepak bola paling rusuh di dunia sampai-sampai fenomena Football Hooliganism ini disebut English disease. Anda juga perlu membayar mahal untuk dapat masuk ke sekolah/universitas Inggris yang dapat memberikan pendidikan berkualitas tinggi, yang menyebabkan adanya segmentasi strata sosial sejak awal. Oleh sebab itu ada anekdot, dan juga data yang menunjukkan, bahwa mahasiswa yang dapat memasuki Oxbridge (Oxford dan Cambridge) adalah mahasiswa yang berasal dari sekolah Privat yang memiliki kualitas pendidikan lebih tinggi tetapi dengan biaya yang lebih mahal. Sempat juga terjadi beberapa kali demonstrasi menentang biaya pendidikan yang terlampau tinggi ini. Selain itu pula industri Inggris sedang mengalami penurunan secara perlahan tapi pasti. Jika di saat setelah Perang Dunia Inggris memiliki industri yang sangat kuat dibandingkan dengan negara lainnya, industri Inggris sekarang sudah mulai disalip oleh saudara-saudara Eropa lainnya  dan juga pesaing-pesaing baru dari Asia (Untuk lebih jelas silahkan membaca “The Slow Death of British Industry” karangan Nicholas Comfort). Akibatnya tentu saja ada pada berkurangnya lapangan pekerjaan dan meningkatnya angka pengangguran. Bagaimana dengan politik? Sudah beberapa kali saya melihat poster satu partai yang dicoret-coret dan dilempari cat. Kekhawatiran yang sedang terjadi disini adalah jika ada satu partai tertentu yang meraih suara terbanyak, maka ada kemungkinan besar UK akan memisahkan diri dari Uni-Eropa karena filosofi partai tersebut yang cenderung Eurosceptic dan Ultra-nasionalis. Salah satu hal yang sedang hangat disini juga adalah rencana Skotlandia untuk memisahkan diri dari UK yang tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi di UK. Tetapi inti dari yang ingin saya sampaikan adalah, bahkan negara maju seperti Inggris dan Jepang juga memiliki masalahnya sendiri, tidak semuanya seutopis yang kita bayangkan dimana hidup di negara maju pasti lebih nyaman dan lebih enak.

Pengalaman saya melakukan riset di Inggris selama dua bulan tentunya memperkaya wawasan, cara pandang, dan juga pengetahuan saya. Hanya saja semakin saya melihat dunia, semakin sadar juga saya bahwa untuk ke depannya saya ingin tetap tinggal lama di negara sendiri. Terus terang saja, saya termasuk orang yang beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Tetapi seperti quote yang diucapkan oleh Paul Weller, seorang musisi Inggris : “Seseorang mendapatkan kesempatan hanya untuk dapat memberikan kesempatan lebih banyak lagi kepada orang lain”, tidak ada gunanya saya menjadi terdidik jika saya tidak bisa mendidik orang lain. Di Indonesia juga masih banyak kemiskinan, ketidaksamarataan pendidikan dan ekonomi, konflik lokal, dan berbagai macam hal lainnya yang menjadi PR saya dan kita bersama. Jika Indonesia dapat menjadi negara yang maju dan bermartabat dengan budaya kita yang sangat beragam, bukankah kita dapat menjadi contoh yang sangat baik untuk Dunia? Saya cukupkan dulu tulisan ini, dan saya harap apa yang saya dapatkan dari Inggris dan saya ceritakan disini dapat memberikan manfaat untuk anda yang sedang membaca tulisan ini. Cheers!

 

Dalam perjalanan dari Heathrow menuju Incheon (tentunya dengan pesawat terbang)

Pramudita Satria Palar

23 Juni 2014

Advertisements